Perlukah Bergabung dalam Organisasi Kampus?

Welcome to "Black Cat's Stories"

Hai, sudah lama kita tidak berjumpa! Apa kabar?
Terakhir kita berbicara mengenai rasa takut dan rasa cemas yang muncul ketika sudah berusia 20 tahun ke atas.  Iya, tentang Takut Tambah Dewasa.

Apakah kamu masih bimbang tentang apa yang ingin kamu lakukan? well, sudahkah kamu mencoba untuk bergabung dalam sebuah organisasi atau komunitas?

Bicara soal organisasi,

Kamu tahu, belakangan ini aku menemukan sebuah isu yang menarik perhatianku, yaitu isu mengenai kepentingan dan kebermanfaatan dalam mengikuti organisasi kampus. Terdapat banyak pendapat yang beragam mengenai topik tersebut, semuanya didasarkan pada pandangan dan pengalaman pribadi masing-masing penulis.

Secara garis besar,  sebagai seseorang yang pernah bergabung dalam sebuah organisasi internal kampus selama dua tahun, aku dapat menyatakan bahwa bergabung dalam organisasi itu memberikan manfaat dan keberadaanmu sangat diperlukan (karena organisasi kami sering kekurangan orang dan kami sering membutuhkan tenaga ekstra:v).
..

Jika kita berbicara mengenai realita dan faktanya, bergabung dengan organisasi kampus tidak selalu rainbow and sunshine alias tidak selamanya indah. Terdapat hal-hal yang tidak menyenangkan dan mengecewakan. 

Kamu mungkin pernah dengar bahwa belakangan ini reputasi organisasi menurun sangat drastis. Dikarenakan kerugian yang ditimbulkannya lebih besar daripada seharusnya. Semua itu memiliki unsur-unsur yang sama:

Iklim organisasi yang tidak sehat. Sistem yang kacau dan rancu. Pemimpin dan anggota yang penuh dengan ego dan gengsi. 

Masalah internal yang disebabkan oleh unsur-unsur di atas, selalu menjadi penyebab hancurnya sebuah organisasi. Kerugian yang ditimbulkan juga tidak sedikit.

Salah satu kerugian tersebut adalah kerugian finansial. Kerugian ini biasanya diakibatkan dana yang dibutuhkan untuk pelaksanaan program kerja melampaui budget. Masih untung jika semuanya dapat diselesaikan ketika acara belum dimulai.

Namun, bagaimana jika konflik tersebut masih belum selesai bahkan ketika acara sudah berakhir?

Salah satu teman dekatku misalnya, penanggung jawab organisasi tempat ia mengabdi menghilang seolah ditelan bumi membawa uang miliknya dan anggota yang lain. Padahal, sebelumnya mereka adalah teman dekat dan sering menghabiskan waktu bersama. Cerita serupa juga sering aku dengar, yaitu organisasi berhutang puluhan hingga ratusan juta setelah selesai acara.

Mahasiswa mana yang mempunyai uang sebanyak itu di kantong celananya? Tentu saja, mereka yang terlilit hutang sebanyak itu jika tidak kerja ekstra pastinya memilih untuk kabur.

Ditambah faktor lain seperti menganggu akademik, tekanan batin yang didapatkan, pekerjaan yang tak kunjung usai tanpa bayaran, serta drama-drama yang tidak perlu.

Sungguh, tidak worth it. Untunglah diluar sana banyak pilihan lain yang lebih menguntungkan yang layak dicoba untuk mengasah keterampilan dan mengembangkan diri, seperti ikut volunteer, komunitas, ekstrakulikuler, magang, atau mengikuti MBKM.

Pada akhirnya, apakah organisasi kampus masih diperlukan sebagai sumber pengalaman, relasi, dan pengembangan diri?

Well, jika kamu tanya pengalamanku pribadi aku dapat menjawab masih diperlukan. Terlepas dari berbagai masalah yang saat ini terjadi dalam internal organisasi. Terdapat sebuah pengalaman, relasi, dan keterampilan yang hanya akan didapat secara spesifik yang mungkin tidak akan didapatkan dari sumber lain.

Misalnya,

Dalam segi pengalaman, organisasi sifatnya lebih formal, mengikat, dan memiliki hierarki yang jelas. Sehingga organisasi akan memberikan pemahaman mengenai bagaimana “pemerintahan” atau sebuah sistem bekerja. Banyak prosedur, aturan, dan tata cara dalam melakukan berbagai hal, mulai dari menerima masukan hingga merancang program kerja. Segalanya membutuhkan proses baik cepat maupun lambat tergantung pada aturan yang berlaku. Terdapat organisasi yang bertugas untuk melakukan, mengawasi, dan/atau mengatur sesuai dengan ketetapan yang ada.

Kemudian, mengenai relasi yang akan diperoleh. Orang-orang yang dapat ditemukan dalam organisasi biasanya orang yang kritis, vokal, dan memiliki ambisi. Mayoritas orang yang bergabung dalam organisasi juga aktif berkegiatan di tempat lain, baik volunteer, ekstra, atau mengikuti kegiatan MBKM daripada sebaliknya. Beberapa temanku adalah bergabung dengan berbagai organisasi luar maupun internal kampus dan kini fokus pada perlombaan atau kegiatan akademik. Sehingga, jika membutuhkan orang-orang kritis, vokal, dan ambisius, lebih mudah jika mencarinya di dalam sebuah organisasi.

Dalam hal pengembangan diri, organisasi melatih kerja sama tim, kesabaran, keteguhan hati, resiliensi, dan juga kemampuan dalam memanajemen diri maupun orang lain. Namun, secara realita organisasi memberikan set keterampilan yang berbeda-beda dan terkadang tidak terduga tergantung siapa, dimana, dan melakukan apa. Seperti dalam kasusku, set keterampilan yang didapat adalah kemampuan untuk bersabar, percaya diri, dan teguh dalam pendirian. Selain itu, aku belajar sedikit mengenai politik dan metode persuasi.

Pada akhirnya, kepentingan dan kebermanfaatan sesuatu, terutama organisasi tergantung pada bagaimana individu tersebut memperolehnya dan memandangnya. Bahkan pengalaman buruk juga merupakan pelajaran yang sangat berharga dalam hidup. 

Bahkan, opsi lain yang terlihat lebih bermanfaat untuk mendapatkan pengalaman kerja seperti magang dapat saja tidak sehebat yang diceritakan orang-orang. Karena, aku pernah mendengar orang yang magang hanya disuruh-suruh untuk ambil air minum atau print dokumen, ia tidak mendapatkan pengalaman kerja sebagaimana mestinya. 

..

Kurang lebih seperti itu manfaat yang dapat diperoleh berdasarkan pengamatan dan pengalaman pribadiku sendiri. Tentunya organisasi bukan untuk semua orang. Namun, semoga tulisanku dapat memberikan sebuah manfaat atau menghibur dirimu. 

See ya~

 


Komentar

Natasya mengatakan…
Mantap semangat terus kak