Takut Tambah Dewasa

Takut tambah dewasa, takut aku kecewa
Takut tak seindah yang kukira~

[Now Playing: Takut-  Idgitaf]

Tahun lalu, lagu itu hanya enak didengar dan dinyanyikan. Kini, lagu itu terasa begitu nyata. Apalagi ketika aku menyadari bahwa ini waktunya aku menghadapi dunia yang sesungguhnya.
..
Welcome to "Black Cat's Stories". Apa kabar?

Aku berharap kondisimu dan keluargamu baik-baik saja, yaitu dipenuhi kebahagiaan dan tercukupi kebutuhannya. Bahkan jika sedang dalam situasi yang tidak baik, aku harap kamu dan keluargamu dapat melaluinya. 

Saat ini, situasi dunia saat ini sangat tidak menentu. Banyak ancaman diluar sana yang membuat kita harus memiliki banyak keterampilan dan sumber daya agar mampu bertahan hidup dan bersaing dengan orang lain.

Tidak heran bagi mereka yang berusia sekitar 20 tahun hingga 30 tahun, mulai merasa kebingungan dalam menentukan arah dalam hidupnya. 

Dalam situasi yang serba salah seperti ini, jalan apa yang seharusnya ditempuh oleh kita?

Jika kamu sepertiku,
Kamu mungkin menyadari bahwa jalan yang kamu inginkan dan jalan yang perlu kamu lalui itu tidak selalu sama.

Lalu, mungkin kamu merasa ingin menyerah, ingin menangis, dan/atau ingin menghilang saja. 
Kamu tidak tahu apa yang harus kamu lakukan, tidak tahu nasihat siapa yang perlu didengarkan, atau bahkan hatimu sudah hancur berkeping-keping hingga kamu tak bisa lagi mendengar, merasakan, atau melihat kemana kamu harus pergi. 

Jika itu yang kamu rasakan, maka sungguh aku memahaminya. Meski, saat ini aku tidak memiliki obat atau solusi yang bisa membantumu atau diriku dalam kegelisahan yang sedang kita alami. 
Karena, hidup memang begitu, kita tak selalu bisa berdiri. 

Meski kamu saat ini merasa tidak baik-baik saja, aku juga tidak baik-baik saja, bahkan mungkin keluarga, tetangga, dan temanmu tidak baik-baik saja.. 

Bukan berarti semuanya tanpa harapan.
Kita sebagai orang yang tidak baik-baik saja, perlu saling mendukung dan memberikan kekuatan. Kita tak perlu menghadapinya seorang diri. 

Oleh karena itu, 
Ini adalah sebuah cerita sederhana mengenai kegelisahan yang menghantuiku selama beberapa minggu.

Sebagai latar belakang, aku ini adalah orang yang biasanya cuek dan tidak terlalu banyak berpikir tentang sesuatu yang tidak pasti seperti masa depan. Aku menjalani hidup pada masa kini, melakukan hal-hal yang aku suka, dan hidup dalam bayang-bayang. 

Aku tak pernah berharap menjadi sosok yang populer, kaya raya, atau sangat berkuasa. Bagiku, hidup sederhana dan bahagia sudah lebih dari cukup. Tak apa jika aku tidak menjadi apapun, tidak terlihat, tidak memiliki apapun yang pantas dibanggakan. Aku tidak pernah merasa takut, karena masih ada hari esok. 

Namun, menjelang usia 20 tahun, tidak ada lagi yang dapat menjamin apapun.
Rencana-rencana serta harapan yang pernah aku susun sebelumnya, kini sudah tidak lagi relevan.

Tidak semua “mimpi” dapat diwujudkan meskipun aku telah berusaha keras untuk meraihnya. Beberapa hanya akan menjadi sebuah cerita dan harapan yang terlupakan.

Orang-orang yang aku pikir akan bersamaku hingga akhir waktu, kini tanpa aku menyadarinya sudah tidak ada disampingku lagi. 

Lalu, kesedihan dan kehilangan itu berubah menjadi ketakutan. Aku sudah kehilangan sebanyak ini, aku sudah bersusah payah untuk tetap baik-baik saja hingga tak bisa bernafas.

Aku merasa begitu lelah, bahkan memandang masa depan tak lagi menggembirakan.

"Bukankah selama hidup, kemalangan akan selalu hadir meski aku sudah lulus, meski aku sudah bekerja, meski aku sudah tua.." Mengatakan kalimat itu saja sudah membuatku takut. 

Ketidakpastian dalam hidup telah membuatku takut. 

Pikiranku terus menerus bekerja, siang-malam, tidak peduli aku berada di mana atau sedang melakukan apa. Pikiranku terus membawaku ke sebuah titik tergelap dalam jiwaku. Seakan berusaha untuk mencari sebuah jawaban yang dapat membuatku seperti sedia kala. 

Namun, daripada jawaban yang kutemukan, aku malah menemukan banyak pertanyaan, pertanyaan yang mungkin tak akan terjawab, pertanyaan yang membuat kegelisahanku semakin menguat. 

Aku terus menerus berpikir tanpa henti, berputar-putar dalam ketakutan, kecemasan, dan kekhawatiran akan sesuatu yang mungkin akan terjadi.  Sesuatu yang buruk dan menakutkan yang terus-menerus membayangiku.

"Kemampuan dan keterampilan yang telah aku peroleh sebelumnya. Dapatkah ia berguna untuk menghadapi hari esok?"

Aku ragu pada kemampuanku lagi.

"Orang yang mendukungku saat ini, akankah ia tetap bersamaku ketika kegagalan dan kemalangan tiba?"

Aku meragukan hubungan yang aku miliki.

"Bagaimana jika aku tidak mampu memenuhi ekspektasi mereka, sehingga aku menjadi beban dan mereka membenciku karenanya?"

Aku takut gagal dan mengecewakan orang lain maupun diriku.

Atau bagaimana jika, "Aku tidak mampu menghadapi hidup, sehingga aku terbunuh karenanya."

Lagi-lagi, aku meragukan kekuatanku dalam menghadapi hidup.

Dalam pandanganku, hidup tiba-tiba menjadi begitu menakutkan. Membuat kematian seolah-olah menenangkan. Tidak ada lagi yang perlu ditakutkan jika hidup berhenti bergerak, bukan? 

Aku yang penuh dengan kelemahan ini, hanya bisa lari dan sembunyi. Mendekam di kamar gelap seorang diri, mengatakan padaku bahwa ketakutanku hanyalah rasa malas. Menyepelekannya. 

Aku berbohong pada diriku, "Aku hanya perlu menunggu sebuah momen yang tepat, sebuah momen dimana aku dapat menunjukkan harga diriku dan kemampuanku yang sesungguhnya."
Mungkin, jika aku menunggu, kehidupan yang stagnan ini akan berubah. Seperti kisah-kisah yang dituliskan dalam cerita fiksi. 

Mungkin akan ada monster dan aku akan menjadi pahlawan, mungkin akan ada seseorang yang spesial yang akan mengubah hidupku, atau mungkin aku akan mendapatkan kekuatan super dan menjadi sosok yang keren. 

Namun, itu semua hanyalah fantasi. Tidak lebih dari upaya melarikan diri yang menyedihkan. 
Realitanya aku hanyalah orang biasa yang masih tidak tahu apa yang ingin aku lakukan. Terlalu malu untuk mengakui kelemahanku dan terlalu ragu untuk menggunakan kelebihanku. 

Sungguh, ini semua membuatku frustasi. Aku begitu lemah dan menyedihkan.

Namun, aku menyembunyikannya lagi hari ini dibalik wajah yang dihiasi senyuman. 
Aku tak ingin membuat mereka yang kucintai merasa khawatir dan membenciku lebih dari ini.

Karena, aku sendiri membenci diriku yang seperti ini.
.. 
Itu tadi adalah cerita pendek mengenai seseorang yang takut tumbuh dewasa. 

Apakah kamu juga merasakannya? Jika begitu, kamu boleh membagikannya lewat komentar yang tersedia. Kita bisa galau bersama jika kamu mau. 

Sampai berjumpa lagi. 
(´˘`)♡

Komentar

Unknown mengatakan…
Semakin dewasa semakin yakin bukan bukan tokoh utama di cerita slice of life, comedy, romance :')