Zoom Fatigue
Welcome back to "Black Cat's Stories", berjumpa lagi denganku yang akan mencurahkan keresahan terkait penggunaan zoom/video conference yang terlalu sering.
Silahkan ambil posisi yang nyaman dan mari berkumpul dalam keresahan, kegelisahan, kesengsaraan, dan penderitaan.
Sudah siap?
...
Beberapa bulan yang lalu, tepatnya sekitar bulan september. Aku menemukan sebuah video yang menjelaskan tentang "Zoom Fatigue".
Singkat cerita, zoom fatigue adalah rasa lelah sehabis melakukan zoom meetings. Rasa lelah itu bisa membuat seseorang menjadi gampang kesal, malas melakukan kegiatan lain, sulit konsentrasi, hingga pelupa. Mirip-mirip burn out.
Sebenarnya, aku sendiri sudah merasakan kelelahan ini sejak awal semester 4, yang dimulai pada periode januari-februari kemarin, entahlah aku lupa.
Aku tak bisa ingat apa saja yang aku lakukan sepanjang periode itu, selain upaya keras untuk bangkit dari kasur dan memahami materi kuliah dengan hati yang ingin menangis.
Oleh sebab itu, setelah melalui semester kemarin dengan babak belur dan kekalahan (nilai IP turun). Aku mengumpulkan energi dari alam untuk merancang sebuah strategi tepat guna untuk bisa survive semester ini.
Salah satu strategi tersebut adalah memilih kegiatan secara bijaksana. Namun, belum juga dua bulan, aku sudah kewalahan lagi. Sebab, acara webinar atau workshop yang ditawarkan sangat menarik. Rasanya kalau tidak mendaftar aku akan rugi dan tidak produktif.
Alhasil, aku bahkan booking tiga webinar di waktu yang sama.
Orang-orang mungkin akan berkata, "wah, bro, lu produktif banget sampe booking tiga seminar"
Akan tetapi, hak tersebut merupakan sebuah kesalahan yang akan menuntunku menuju kesengsaraan, yaitu burn out, toxic productivity, dan juga FOMO.
Karena, meskipun hal tersebut "bermanfaat/produktif" menurut pandangan sekilas, apa gunanya jika tidak mendatangkan kebahagiaan dan malah membuat tertekan?
Memasuki dunia maya sejak pagi hingga malam, dari senin hingga minggu. Online dengan menggunakan pakaian rapi, hingga tidak berpakaian karena tidak ada baju bersih.
Setiap hari kerja lembur tanpa makan, tanpa mandi, tanpa istirahat, hingga lupa keluarga, lupa teman, lupa diri. Pikirannya entah kemana, entah memang ada, entah tiada.
Terus seperti itu, tanpa batasan ruang dan waktu, dituntut oleh kewajiban untuk mengerjakan banyak hal. Tanpa permisi, semuanya mengetuk jendela notifikasi dan berkata, "hellow~ ada tugas baru nih!".
Padahal, tugas yang kemarin saja belum selesai. Itu ngerjain tugas atau dikerjain tugas?
Namun, penderitaan belum berakhir kawan, karena hambatan dan tantangan akan selalu berdatangan silih berganti, yang akan menarikmu menuju jurang kesengsaraan.
Dicuekin di grup. Sinyal tidak stabil. Tugas menumpuk. Acara bentrok. Slow respond. Masalah keluarga.
Cari hiburan di media sosial, eh liat postingan teman tentang pencapaian dan kebahagiaannya. Dia sudah menikah, dia sudah punya anak, sudah punya pacar, sudah lulus, sudah bekerja, sudah menang lomba, sudah lebih baik daripada..
Aku yang masih berjuang untuk bangkit dari kasur untuk memahami materi via zoom, dan masih tetap menjadi kaum rebahan dan beban.
Bahkan suara notifikasi yang dulu terasa spesial, kini menjadi suara paling menyebalkan karena sudah tahu bahwa itu suara pesan dari grup atau dari teman yang menanyakan tugas.
Bahkan aku tahu, besok saja aku akan menghadiri zoom meetings!
AAAAAAHHHH!!! UDAHLAH CAPEK AKU TU ðŸ˜
.
.
See ya again, next month
Komentar