Tentang Resiliensi
![]() |
Welcome to “Black Cat’s Stories”.
Happy
new year, friends! Selamat datang di tahun 2021, semoga tahun ini
memberikan berkah untuk kita semua serta menjadi tahun yang lebih baik
dibandingkan tahun 2020.
Meskipun,
di awal bulan januari ini sudah banyak berita duka yang menimpa Indonesia
maupun secara pribadi, namun bukan berarti kita semua harus menyerah dan
berputus asa, bukan?
Masih
ingat postingan 7
Cara Waras Menghadapi Covid? postingan tersebut adalah bentuk ideal dari
harapanku menghadapi pandemi. Menjalani hidup yang bermanfaat dengan
menggunakan setiap waktu luang untuk meningkatkan diriku, katanya.
Kenyataannya?
Banyak
hal yang tidak sesuai dengan yang aku bayangkan. Bahkan sekarangpun hari-hari
yang produktif dapat dihitung dengan jari. Aku banyak berpikir dan merenung tentang
diriku, tentang hidup, dan tentang hal-hal yang tidak dapat aku ubah atau
kendalikan.
Banyak
hal yang terjadi yang hampir membuatku berputus asa dan bersedih hati. Aku
membenci kelemahan ini, bahkan merasa malu dan bersalah karena tidak bisa
menjadi diriku yang ideal bagi semua orang.
Apakah
kamu merasakan hal seperti itu?
Tentunya
situasi sulit tidak bisa dihindari sepenuhnya. Karena, semua itu merupakan
bagian dari hidup yang membuatnya lebih berwarna.
Setiap
kali berhadapan dengan situasi yang sulit dan semangatku mulai goyah, suara di
dalam hatiku selalu bertanya, “Sudah menyerah? Hanya segitu kemampuanmu?”
Rasanya
sangat kesal, bukan main. Karena itu, meskipun sudah babak belur aku tetap
nekat dan belagu. Aku selalu menantang nasib dan sekitarku, dengan seringai aku
akan mengatakan, “bring it on!”
Menolak
untuk menjadi lemah adalah wujud dari resilience
yang aku miliki. Sifatku secara alami menolak untuk kalah sebelum bertarung. Selain
itu, jika aku tidak bisa menang dengan menjadikan situasi sulit sebagai musuh,
maka aku akan berteman dengannya. Apapun akan kulakukan untuk dapat berjaya.
Kamu
juga memiliki daya tahan atau resilience untuk mengatasi
situasi yang sulit. Semua itu tergantung dari kemampuanmu dalam menoleransi
keadaan dan beradaptasi. Hanya saja beberapa orang secara natural memang lebih
resilien.
Sederhananya,
kamu pasti menyadari beberapa orang pada awal pandemi memiliki reaksi yang
berbeda, bukan? Meski mengalami masalah
yang sama, yaitu pandemi. Ada yang dengan tenang berusaha memahami situasi
dan beberapa yang lainnya merasa panik, cemas, dan was-was.
Konon,
resiliensi hanya dapat diperkuat dengan menghadapi situasi sulit. Jadi, semakin
banyak kesulitan yang pernah kamu hadapi maka semakin kuat dirimu. Maka,
kesulitan yang kamu hadapi sampai hari ini, tidak ada satupun yang sia-sia.
Tapi,
aku sejujurnya merasa menghadapi situasi sulit saja tidak akan membuatmu
tangguh. Karena, setiap orang memiliki batas toleransi, terkadang situasi
memang terlalu sulit dan menyakitkan, sehingga sangat memengaruhi individu
tersebut. Misalnya, trauma.
Menghadapi
trauma tidak cukup dengan menjadi “kuat” tapi ada cara spesial untuk
menghadapinya dan pada beberapa kasus membutuhkan bantuan orang lain untuk
menyembuhkannya.
Karena
itu, mengatakan situasi sulit pasti membuat
seseorang menjadi kuat itu dirasa kurang tepat. Aku merasa yang membuat
seseorang menjadi lebih tangguh adalah kemudahan-kemudahan yang di dapat
setelah mengalami situasi sulit.
Katakan
saja itu adalah reward, hikmah, atau proses healing.
Selain itu, terdapat 5 strategi yang membantuku untuk menjadi lebih tangguh,
yaitu:
1.
Terhubung dengan orang lain
Tak
apa-apa jika kamu membutuhkan bantuan orang lain.
Terkadang
ketika situasi sulit tiba, beberapa orang akan menyimpannya rapat-rapat dengan
berbagai alasan. Mulai dari tidak ingin merepotkan orang lain hingga tidak
memiliki orang yang dapat dipercaya.
Namun,
menurutku ketika situasi sulit, bukankah akan lebih mudah jika memiliki tempat
untuk bersandar? Meskipun, tempat itu tidak sempurna dan memang tidak perlu
sempurna, namun cukup untuk membuatmu tidak merasa sendirian lagi.
2.
Mindfulness
Situasi
yang sulit akan membuatmu memikirkan kemungkinan paling buruk 24/7 atau
mendapatkan dorongan untuk bertindak impulsif, cara terbaik untuk menghadapinya
adalah dengan berpikir jernih.
Mindfulness
adalah metode memusatkan pikiran pada masa kini. Seperti fokus pada makananmu
tanpa memikirkan tagihan atau fokus pada pekerjaanmu tanpa terdistraksi dengan
notifikasi media sosial. Metode mindfulness yang paling populer adalah
meditasi, yoga, dan ibadah.
3.
Mengubah sudut pandang
Situasi
yang sulit terlihat sangat mengerikan dan berbahaya ketika kamu memandangnya
sebagai sebuah “masalah”. Apalagi ketika kamu memasukannya ke dalam hati alias
melihatnya secara personal.
Cobalah
untuk mengubah sudut pandang. Kamu dapat memberikan pertanyaan-pertanyaan pada
dirimu, seperti:
“Apa
yang sebenarnya terjadi?”
“Bagaimana
perasaanmu terhadap kejadian itu?”
“Siapa
saja yang terlibat? Apa yang mereka lakukan?”
Biasanya,
mendeskripsikan kembali kejadian tersebut secara lebih objektif dapat
membantumu melihat situasi secara lebih luas. Bukan, berarti kamu second
guessing atau meragukan kenyataan situasi yang di alami, ok?
4.
Membantu orang lain
Memberikan
bantuan pada orang lain dapat memberikan banyak manfaat loh. Mulai dari rasa
puas, rasa senang, menghilangkan kesepian, memberikan tujuan, memperkuat
hubungan, dan yang paling penting adalah karma baik.
Namun,
perlu aku tegaskan, jangan sampai kamu mengorbankan dirimu demi orang lain atau
memberikan apa yang tidak kamu miliki. Hal tersebut, tidak akan bisa memberikan
kebahagiaan bagi siapapun.
5.
Proaktif
“Nasibmu
ga akan berubah jika kamu tidak pernah merubahnya.” -unknown
Menjadi
proaktif bermakna kamu mengambil inisiatif dalam hidup. Tidak hanya bereaksi
pada situasi saja, namun kamu juga secara sadar menentukan kamu tuh ingin apa
dan meraihnya dengan tanganmu sendiri.
Situasi
sulit dan tragedi akan selalu menjadi bagian dari hidup, namun bagaimana kamu
meresponsnya yang membedakanmu dengan orang lain.
...
Oke,
begitu saja untuk tulisan kali ini.
Kamu merasa belum cukup puas? Coba cek link berikut ini dan ini, untuk mengenal resiliensi lebih dalam lagi.
Jadi, seberapah tangguhnya dirimu? Apakah kamu memiliki metode lain atau kamu setuju dengan strategi di atas? Bagikan pendapatmu di kolom komentar!
Seperti biasa, terima kasih telah membaca!
See you, next time!
(^∇^)οΎ‰♪

Komentar