Procrastination: Nanti Aja, Masih Ada Besok
Welcome to “Black Cat’s Stories”
Postingan kali ini adalah request
dari seorang teman dengan tema yang sangat menarik
“PROCRASTINATION”
Procrastination adalah upaya menangguhkan atau menunda sebuah pekerjaan atau sekumpulan pekerjaan.
.
Pernahkah kamu menunda mengerjakan
sebuah tugas/ aktivitas yang seharusnya dikerjakan dengan malah melakukan hal
lain yang tidak berkaitan?
Kamu diberi tugas sekolah atau kantor dalam batas waktu tertentu, tapi daripada mengerjakan tugas tersebut, dengan alasan masih banyak waktu, kamu menata ulang kamar, berbelanja untuk keperluan satu bulan, pergi piknik, marathon drakor 4 musim, menonton video youtube, bahkan membaca postingan ini.
Hingga batas deadline perlahan semakin dekat, lalu muncul rasa panik, gelisah, dan rasa bersalah yang juga semakin kuat..
Hingga akhirnya, the power of kepepet mengambil alih yang membuat kamu mengerahkan seluruh tenaga, kemampuan, dan potensi kamu untuk mengerjakan tugas tersebut.
Jika kamu pernah melakukan hal yang serupa, maka kamu sedang melakukan Procrastination.
Untuk memahami mengapa seseorang
menunda suatu aktivitas, coba cek video di bawah ini:
Berangkat dari penjelasan video
tersebut. Instant Gratification Monkey membuat kita memilih untuk
melakukan hal-hal yang menyenangkan dan fokus pada masa kini. Tentu saja hal
tersebut tidak sepenuhnya salah jika keinginan untuk bersenang-senang masih
tergolong wajar dan rasional, seperti pergi menonton film bersama teman selepas
ujian atau bersantai-santai pada saat weekend.
Namun, hal tersebut menjadi sebuah masalah
ketika hal yang ditunda adalah hal yang penting dan dapat memengaruhi masa
depan seperti belajar untuk ujian, mengerjakan tugas/PR/laporan, latihan untuk
pentas, membangun bisnis, mengikuti pelatihan, dsb.
Terinspirasi
dari video tersebut terdapat dua jenis penundaan (procrastination):
Penundaan
dengan batas waktu
Pernahkah kamu mendapatkan sebuah
tugas atau pekerjaan yang memiliki batas waktu lama seperti satu minggu atau
bahkan pada akhir semester, lalu memiliki rencana untuk memecah-mecah tugas agar
persiapan menjadi lebih matang dan terencana, namun pada kenyataannya
dikerjakan H-1 atau bahkan satu jam sebelum deadline?
Jika kamu pernah mengalami hal seperti
itu, maka kamu tidak sendirian.
Dalam menulis postingan ini pun aku
melakukan banyak penundaan, aku tahu postingan ini harus sudah selesai pada
bulan oktober 2020. Namun, dalam prosesnya hingga di posting pada hari ini, aku
terdistraksi banyak hal yang menurutku penting (baca: nonton anime, rebahan,
jalan-jalan) dan jika tidak menyempatkan untuk menulis, maka tidak akan ada
momen yang sempurna untuk menulis hingga akhir bulan oktober 2020 atau mungkin
tahun depan atau mungkin tidak akan pernah menyelesaikan postingan ini sama
sekali.
Untungnya, menempatkan batas waktu dan
target postingan setiap bulan ditambah mengumumkan update bulan ini pada
beberapa orang yang menunggu postingan ini dimuat, membantu memberikan “sense
of urgency” yang menciptakan rasa panik dan membangkitkan power of kepepet yang terpendam.
Penundaan
tanpa batas waktu
Namun, bagaimana jika aktivitas,
kegiatan, atau hal-hal yang perlu dilakukan tidak memiliki batas waktu?
Tidak peduli kapan memulainya atau
kapan mengakhirinya, tanpa “sense of urgency” maka seorang individu yang
memiliki kebiasaan menunda yang parah, tidak dapat mengandalkan rasa panik yang
dapat membangkitkan the power of kepepet.
Pilihan hidup seseorang sepenuhnya
dikendalikan oleh instan gratification
monkey yang lebih memilih untuk melakukan hal-hal yang menyenangkan dan
menghindari hal yang tidak menyenangkan.
Jika sudah demikian, maka rencana yang
diharapkan akan dilakukan, akan terus menerus ditunda hingga batas waktu yang
tidak ditentukan.
Sehingga dalam melakukan perencanaan perlu dilakukan secara spesifik, dapat diukur, dapat diraih/realistik, relevan dengan kondisi saat ini, dan diberikan batas waktu (metode SMART)
.
Lalu jika menunda itu hal yang buruk
mengapa seseorang melakukannya?
Sederhananya adalah karena hal yang
harus mereka lakukan itu tidak menyenangkan bagi mereka.
Terdapat banyak emosi negatif yang
berkaitan dengan hal yang perlu dilakukan tersebut: rasa terpaksa, bosan,
cemas, rasa rendah diri, takut salah, dan sejuta alasan lain..
..yang akhirnya membuat kita berkata,
“kalau orang lain bisa, kenapa harus saya?”
Namun, menunda tidak akan membuat seseorang merasa lebih baik, terutama jika hal yang ditunda adalah hal yang penting atau sangat ingin mereka lakukan.
Terutama jika menunda pekerjaan yang dapat menciptakan konflik dengan teman kelompok, guru, atasan, atau siapapun yang "menanti" dirimu untuk melakukan sesuatu yang tertunda tersebut.
Sehingga cara terbaik untuk menghadapi masalah ini adalah dengan mengubah kondisi kita sendiri, seperti memberikan hal yang menyenangkan atau disukai ketika melaksanakannya. Contohnya: mengerjakan tugas matematika sambil ngemil keripik kentang favorit.
.
“Okay-okay gw paham, terus gimana
caranya untuk menghentikan procrastination?”
Pertama-tama, perlu diketahui penyebab utama mengapa seseorang menunda. Alasan yang mendasari mengapa kamu menunda
pekerjaan tersebut:
Apakah
kamu perfeksionis?
Keinginanmu untuk menciptakan awal yang sempurna dan menghindari kegagalan
mungkin menjadi penyebab kamu belum memulai sesuatu.
> Manusia tidak ada yang sempurna, begitupun "perfeksionisitas" yang justru malah menghambatmu untuk unjuk gigi. Ketika baru memulai sesuatu hentikan obsesi untuk mendapatkan awal yang sempurna, mulailah dari mencatat ide apapun yang terlintas, membuat kerangka/perencanaan, lalu memperbaiki yang tidak memuaskan di akhir.
Apakah
kamu terlalu sibuk bermimpi?
Kamu ingin menjadi orang kaya, populer, disenangi banyak orang, memiliki banyak
pencapaian namun tanpa memiliki tujuan yang pasti dan jelas. Impian yang tidak
terstruktur dan tidak terarah, tidak akan membuatmu termotivasi atau
mengantarkanmu pada impian itu.
> Mimpi hanyalah akan menjadi mimpi jika tidak di dorong dengan aksi, tentukan tujuan yang hendak dicapai dan mulai lakukan persiapan dengan matang, memecah tujuan menjadi bagian-bagian agar ada sense of accomplishment dan tidak terasa mustahil atau sia-sia, jika ada kesulitan mintalah bantuan untuk menemukan solusi.
Apakah
kamu merasa terlalu stress dan tertekan? Ada banyak hal yang harus dikerjakan sekaligus dan hal
itu membuatmu tertekan, daripada mengerjakannya kamu memilih untuk panik dan
menghindari semuanya sekaligus.
> Jika kamu merasa jenuh, stress, dan tidak bisa fokus, hentikan segala hal yang sedang kamu lakukan sebab memaksakan diri untuk fokus hanya akan membuatmu semakin tidak fokus. Beristirahatlah yang cukup, makan yang bergizi namun jangan sampai berlebihan, minum air putih, pilihlah tugas dari yang paling mudah atau sangat mendesak, fokus pada satu tugas tersebut, mintalah bantuan orang lain untuk membantu. Seringkali orang-orang sudah takut, terindimidasi, dan stress duluan padahal belum mencoba sama sekali.
Apakah
kamu selalu sibuk?
Kamu sungguh ingin mengerjakan hal tersebut namun tampaknya kamu memiliki
banyak hal yang perlu dikerjakan mencuci baju, mengangkat telepon, mengerjakan
laporan yang deadline nya besok, dan kucingmu baru saja muntah. Tapi, kamu
lebih memilih untuk menghitung jumlah kerikil yang ada di taman sambil
teleponan dua jam.
> Tentukan skala prioritas, target pencapaian, dan buatlah maksimal 6 aktivitas yang hendak dilakukan dalam satu hari berdasarkan tingkat kepentingan dan keterdesakan.
Apakah
kamu gampang terdistraksi?
Seharusnya kamu fokus mendengarkan kuliah online, namun acara TV hari ini
sangat menarik sehingga kamu menonton sebentar, oh ada notifikasi, lalu kamu
kembali menatap layar, eh batrenya hampir habis, ketika mengambil cas-an, ada
suara tukang jualan es krim-
> Carilah lingkungan yang kondusif dan nyaman, singkirkan hal-hal yang dapat mendistraksi termasuk notifikasi media sosial, pasang earphone agar tidak terdistraksi dengan suara-suara disekitar.
Apakah
kamu selalu mengerjakan setiap tugas untuk esok hari? Ada tugas dalam satu seminggu,
yaudah santai aja hari ini, besok aja dikerjainnya… eh, kok tau-tau udah H-1?
> Menunda pekerjaan untuk hari esok hanya akan menjadikan dirimu di masa depan memiliki beban yang sangat banyak. Cobalah untuk memecah tugas agar lebih mudah dan terasa ringan, menunda kesenangan sesaat, dan menyadari bahwa "esok" adalah ilusi.
Referensi tipe-tipe penunda dan cara menanganinya bisa akses di sini
Jika alasan kamu menuda adalah karena
aktivitas tersebut tidak menyenangkan namun perlu kamu lakukan kamu dapat
menggunakan tips dari New York Times
di bawah ini:
1.
Kembangkan
rasa ingin tahu: bagaimana rasanya keinginan menunda tersebut? Analisi reaksi
tubuh dan emosi, kembangkan self-awareness. Apakah ada cara lain untuk
melakukan kegiatan tersebut dengan lebih menyenangkan? Cari solusi agar
mengerjakan tugas tersebut lebih menyenangkan, lebih relevan, dan lebih mudah
tentunya.
2.
Pikirkan
rencana selanjutnya: terkadang rasa ogah mengerjakan sesuatu adalah dari
persepsi kita sendiri, namun ketika dikerjakan ternyata tidak sesulit atau
se-membosankan itu, daripada memikirkan bagaimana
melakukan ini, cobalah untuk mengubahnya
menjadi apa yang bisa aku lakukan setelah
ini.
3.
Buatlah
keinginan untuk menunda menjadi lebih sulit: jika tidak tahan untuk mengecek
media sosial maka hapuslah aplikasi tersebut atau pasang password yang panjang,
atau permudah dalam mengerjakan hal yang seharusnya dilakukan.
Ada tips lain yang bisa kamu baca klik di sini
.
Terlepas dari tips-tips di atas, aku sendiri memiliki caraku untuk mencegah kebiasaan menunda mengambil alih hidupku:
Memberikan pilihan: main terlebih dahulu dan mengejar deadline kemudian, atau mengerjakan dan menyelesaikan segera mungkin dan bermain sepuasnya tanpa harus memikirkan tugas sedikitpun.
Mengerjakan dari tugas yang paling mudah, yang paling penting, berdasarkan urutan deadline.
Menunda hal yang bukan menjadi prioritas atau tidak urgent
Membuat lingkungan disekitarku nyaman, bebas dari distraksi, dengan akses makanan dan toilet yang mudah
Istirahat setiap kali mulai merasa jenuh, tapi berkomitmen untuk kembali mengerjakan ketika sudah cukup istirahat.
Setiap kali berhasil menyelesaikan tugas tepat waktu, aku akan memberi reward seperti membeli makanan “wah” yang enak, membeli produk yang diinginkan, atau diberi kebebasan untuk melakukan apapun sekalipun tidak produktif
...
Kesimpulan
Menunda itu adalah hal yang wajar
ketika sederet kegiatan terus-menerus bermunculan, tentunya manusia tidak bisa
mengerjakan segalanya dalam satu waktu, sehingga kita dituntut untuk
menyelesaikan tugas-tugas tersebut satu per satu menurut skala prioritas dan urgency.
Namun, sebagian dari kita memiliki kebiasaan
menunda sebuah tugas atau sekumpulan tugas dengan melakukan hal lain yang tidak
relevan, tidak begitu penting, dan tidak urgent
hingga mencapai batas waktu tertentu.
Terdapat banyak faktor yang
menyebabkan seseorang melakukan penundaan (procrastination) tersebut, entah karena
tidak memiliki motivasi, tidak menentukan skala prioritas, tidak menentukan
target yang ingin dicapai, atau karena merasakan emosi negatif yang berkaitan
dengan tugas tersebut.
Cara untuk meminimalisirnya pun
beragam tergantung akar dari permasalahan tersebut mulai dari mengambil aksi
nyata, melakukan perencanaan dan persiapan yang matang, menghilangkan
distraksi, hingga “menipu” diri dengan memanipulasi lingkungan dan keadaan agar
pekerjaan tersebut dapat ditoleransi.
.
.
Itu saja untuk postingan kali ini.
Apakah kamu memiliki caramu sendiri
untuk mengatasi dan meminimalisir kebiasaan menunda ini?
.
“Be kind to yourself, be understanding to your own circumstances, and be proud if you’re able to overcome your own weakness!”
See ya!
Komentar