1 Tanda, 5 Alasan, dan 1 Kenyataan Mengenai Hubungan Toxic.
Welcome to "Black Cat's Stories"
Toxic Relationship.
Topik yang sedang hangat belakangan ini. Tidak henti-hentinya aku melihat postingan dengan tema tersebut di berbagai platform media sosial: toxic positivity, toxic parenting, dan toxic-toxic lain.
Sehingga aku sendiri merasa tertarik untuk membahas toxic relationship versiku sendiri.
Postingan ini tidak akan membahas pengertian, ciri-ciri, jenis-jenis, dan hal semacam itu. Sebab, aku menganggap orang-orang seharusnya sudah sedikit mengenal topik ini. Melainkan berbagi pengalaman yang seluruhnya berdasarkan pengalaman subjektif dan berdasarkan opini. Jika kamu tidak masalah dengan hal tersebut, silahkan lanjutkan.
Di bawah ini, akan aku bagikan satu tanda
yang harus diperhatikan, alasan sulit meninggalkan hubungan yang toxic + cara untuk meninggalkan hubungan tersebut,
dan kenyataan setelah pergi meninggalkan hubungan toxic berdasarkan
pengalaman pribadi dan pengalaman orang lain yang aku kenal.
Are
you ready?
…
Menurutku, hubungan toxic hanya akan tampak jelas bagi orang ketiga dengan sudut pandang yang lebih objektif, tapi bagi mereka yang terlibat secara langsung akan lebih kesulitan untuk melihat kenyataannya.
Oleh karena itu, di bawah ini akan
kuberikan sebuah pertanda atau red flag yang harus diperhatikan,
karena hal tersebut adalah yang biasanya pertama kali muncul dan yang paling konsisten:
Konflik
batin antara logika dan perasaan.
Konflik itu akan membuatmu merasa
tidak nyaman, takut, cemas, kelelahan, bahkan mempertanyakan kebenaran atau
realita yang kamu alami.
Jika kamu sudah mendengarkan,
menuruti, bahkan mengorbankan segala yang kamu miliki demi orang tersebut,
namun perasaan mengganjal itu tidak hilang, bahkan bertambah semakin kuat. Itu
saatnya kamu berhenti dan mulai bertanya ke dirimu sendiri.
“Apakah aku sudah melakukan hal yang
benar?”
Jika kamu tidak bisa mempercayai
dirimu lagi, ada cara lain yang bisa dilakukan:
Saranku adalah tanyakan pada siapapun
yang kamu percayai dan bisa membuatmu nyaman, maka kamu akan segera menyadari
apa yang sedang terjadi alias melakukan cross
check dengan orang lain di luar hubungan tersebut.
Karena kamu membutuhkan sudut pandang
objektif dan netral. Pastikan ia tidak berpihak dengan siapapun, namun cukup
empatik untuk bisa memahami hal yang membuatmu resah.
Itu tadi adalah satu tips untuk menyadari hubungan yang toxic.
...
Berikutnya, hal yang perlu diketahui
oleh banyak orang.
MENINGGALKAN HUBUNGAN TOXIC ITU SULIT.
Ga semudah membalikkan telapak tangan. Sebab, kondisi mental mereka yang jadi
korban itu sudah dimanipulasi sedemikian rupa, dan mereka yang jadi pelaku ga
sadar kalau mereka salah. Jadi, jangan terlalu memaksakan atau kekeuh harus selesai saat itu juga.
Kenapa?
Ini adalah 5 alasan umum, KENAPA orang
tidak meninggalkan hubungan yang sudah jelas-jelas toxic:
Pertama, ada perasaan hubungan itu
masih bisa diselamatkan dengan berbagai syarat. Misalnya: kalau aja aku lebih
perhatian, mungkin hubungan kita ga akan jadi begini dan dia ga akan begitu.
Kedua, rasa tanggung jawab yang begitu
besar hingga mengontrol dan mencampuri hidup orang lain entah karena rasa sayang yang berasal dari
kasihan, ingin menyelamatkan, melindungi, dan memperbaiki orang lain.
Ketiga, dirinya ga sadar kalau
hubungan tersebut ga sehat karena: 1. Sudah terlalu lama menjalin hubungan
tersebut, 2. Perasaannya masih kuat sehingga dia buta, 3. Engga pernah
mengalami hubungan yang sehat
Keempat, merasa tidak ada lagi tempat
bagi mereka jika mereka pergi. Sebab, orang ini mungkin pernah diyakinkan
seperti ini: “kamu tuh banyak kurangnya, tapi kamu harus bersyukur karena aku
mau sama kamu”
Kelima, terancam. Tidak melulu soal
kekerasan fisik, seseorang terpaksa tinggal berdekatan dengan orang yang toxic
karena terancam tidak mendapatkan biaya hidup, terancam akan dicap
jelek/durhaka, dsb.
Dan banyak alasan lain, yang kalian bisa
tambahkan di kolom komentar.
Aku sangat memahami meninggalkan hubungan toxic itu sulit setelah aku terjebak di dalamnya selama beberapa bulan.
Aku saat itu berpikir bahwa aku tidak bisa seenaknya menghentikan hubungan hanya karena
hubungan tersebut membuatku tidak nyaman.
Bahkan media mengatakan, seperti
quotes-quotes, “orang yang meninggalkanmu tidak pantas memilikimu” atau “nge
block akun dsb adalah perbuatan kekanakan”.
Terutama saat itu, aku malah disalahkan oleh beberapa orang sebab mereka menganggap aku lah yang toxic, hanya karena orang itu sempat merasa down.
Akibatnya, kondisi kesehatanku menurun
drastis dan aku harus bolos sekolah hingga 3 kali dan nilai raport semester itu
turun drastis. Bahkan sempat heran mengapa aku lebih suicidal
dibandingkan biasanya.
Memang lucu sekali ketika
mengingatnya.
So, I will say it for you, “Jika memang beneran tidak bisa diperbaiki, menyakiti seseorang atau bahkan kedua belah pihak, gapapa untuk mengakhiri hubungan tersebut”
…
Tentunya, jika kamu sudah tidak
terikat dengan alasan-alasan di atas. Sudah tidak lagi bergantung pada harapan
palsu, sudah lelah terjebak di situasi tanpa adanya perubahan, atau alasan
apapun.
Kamu akan mulai berpikir untuk pergi.
Memang semua orang termasuk diriku
menyarankan untuk segera pergi tanpa berpikir dua kali. Tapi, sebelum kamu
pergi, aku menyarankan untuk membulatkan tekad terlebih dahulu, pastikan juga
kamu akan berkomitmen dengan pilihan tersebut.
Karena, untuk menghentikan orang yang
beperilaku toxic agar tidak mengejarmu dan mengganggu hidupmu lagi memerlukan
ketegasan dan kebulatan tekad untuk memberikan batasan.
Mempertegas bahwa enough is enough.
Sudah memiliki tekad?
Inilah saatnya kamu bangun dari mimpi.
Kumpulkan kekuatan dalam hati, dan
nyatakanlah lewat aksi.
Jika perlu konsultasikan masalahmu ke profesional yang bisa dipercaya untuk membantumu memproses emosi atau memberikanmu kekuatan/tips secara personal. Mintalah bantuan jika kamu merasa terancam atau dia tidak melepaskanmu sama sekali.
Kurangi interaksimu dengannya, kalau perlu block saja akunnya agar kamu mendapatkan ketenangan. Ingat, mem-block akun bukan karena kamu lari dari masalah, tapi sebagai salah satu cara menghadapi masalah.
Tunjukkan kalau kamu berdaya dan lebih keren dibanding ilusi yang ia buat tentangmu. Lakukan kegiatan yang positif, berinteraksilah denga orang-orang yang memberikan pengaruh positif dan membuatmu bisa mencintai dirimu sendiri.
Akhirnya, maafkanlah dirimu dan orang lain. Dengan begitu kamu tidak perlu membawa beban itu seumur hidup.
..
Selanjutnya, ini adalah kenyataan yang sebagian orang tahu. Karena itu, aku akan membagikan rahasia ini padamu:
Beberapa orang berpikir jika sudah
berhasil pergi, maka semua masalah selesai. Menurutku, hal itu tidak sepenuhnya
benar. Karena, apa yang terjadi padaku tidak sesederhana itu.
Ketika itu, ada perasaan syok dan
kebingungan, sebab, hal yang sempat familiar itu tiba-tiba hilang begitu saja.
Rasanya setelah terombang-ambing di
lautan ketika badai, tiba-tiba terbangun di pulau baru yang tidak di kenal.
Menurutku, momen seperti ini akan
membuat seseorang menjadi lebih sensitif dan paling menentukan masa depannya
kemudian. Apakah kenangan itu akan menjadi traumatik baginya atau tidak.
Bahkan saking pentingnya, bagi mereka yang kurang beruntung karena sudah hidup dalam lingkungan toxic dalam waktu yang sangat lama, mereka akan kesulitan untuk membina hidup yang sehat dengan orang lain. Entah kembali menjadi korban atau malah menjadi pelaku.
Memang tergantung durasi dan tingkat
racun yang dia telan, namun semua orang membutuhkan pegangan setelah keluar
dari hubungan yang toxic. Semacam penguat untuk tetap konsisten dan tahu
kemana harus melangkah selanjutnya.
Sehingga, pada momen seperti ini adalah masa yang paling membutuhkan support system, dan un-learning segala sesuatu yang dipelajari dalam hubungan toxic.
Oleh sebab itu, pada momen healing ini, ambilah waktu sebanyak mungkin dan carilah sebanyak mungkin support yang dibutuhkan. Jangan lupa untuk tetap mengedukasi dirimu sendiri. Karena hal tersebut sangat diperlukan untuk memutus rantai dan menentukan hidupmu selanjutnya.
Jika kamu tanya aku apakah semuanya worth
it? Tentu saja.
Ada banyak hikmah yang bisa aku petik salah satunya adalah mengenal diriku dan menjadi lebih selektif lagi dalam memilih orang yang dekat denganku. Serta, ada banyak pengalaman hidup yang bisa aku pelajari.
Pada akhirnya, hubungan toxic
itu memang sangat rumit dan tricky. Dan, jika kamu berhasil menyelesaikannya,
seharusnya kamu bangga dengan dirimu sendiri. Dan, suatu hari nanti, kamu akan
menemukan hikmahmu sendiri
…
Itu saja ceritaku untuk kali ini, jika
kamu suka atau ingin berpendapat juga silahkan tinggalkan komentar atau bagikan ke orang-orang yang mungkin
membutuhkan!
Jika kamu menyukai kontenku dan ingin
mendukungku, silahkan klik “support me”!
See ya!
Komentar