Alasan Kamu Toxic (+ Cara Memperbaikinya)


Yo, welcome to "Black Cat's Stories".
How are you today?

Postingan kali ini terinspirasi dari sebuah pertanyaan pada kolom komentar di IG, yang mempertanyakan “…bagaimana caranya agar kita tidak toxic?”

Saat itu aku berpikir, wah, benar juga,  rasanya kita terlalu asik menunjuk-nunjuk perilaku orang lain yang tidak sehat atau situasi-kondisi yang tidak menguntungkan kita. Di internet, ada banyak orang yang sudah mengulas masalah yang sama dengan memberikan ciri-ciri, sebab, dan solusi dalam menghadapi hubungan atau seseorang yang dianggap toxic. Bahkan akupun menulis mengenai Toxic Positivity.

Dengan merenungkannya, terbayang dalam pikiranku beberapa orang yang pernah melakukan tindakan yang dianggap toxic, mulai dari senang berbohong, bergosip, memiliki sikap “positive vibe only” atau sebaliknya ia memiliki sikap negatif yang menular, dan masih banyak lagi.

Tapi, bagaimana denganku?

Ada berbagai anggapan mengenai seseorang dengan perilaku toxic, mulai dari dirinya tidak menyadarinya perilaku yang merugikan tersebut sampai dirinya tahu tapi tidak peduli sekalipun perbuatannya merugikan orang lain, dan beberapa tidak akan mengakuinya lalu menyalahkan orang lain.

Masih banyak lagi alasan-alasan lain untuk mempertahankan kebiasaan buruk yang sudah mendarah daging. 

Tapi, terkadang kita perlu mengevaluasi diri, apakah kebiasaan yang kita lakukan merugikan diri kita bahkan orang lain? Kita selalu memproyeksikan apa yang tidak kita sukai atau tidak ingin kita akui pada diri orang lain.

Jadi,  setelah bercermin dan melihat berbagai alasan mengapa orang lain dan dunia bersalah. Lalu, anggaplah kita ini sadar dan dapat melihat dampak negatif yang kita bawa selama ini. Kemudian, ada pencerahan bahwa kita harus berubah.

Maka apa yang harus kita lakukan selanjutnya?

Tentunya, secara sederhana cara agar tidak toxic adalah dengan tidak melakukan hal toxic. Karena itu perlu diketahui perilaku apa yang dianggap toxic, penyebabnya, dan cara memperbaikinya.

Kalau berdasarkan riset-risetan perilaku toxic itu ditandai oleh:
  1. Manipulasi: playing victim, gaslighting, blame games, guilt trip, berbohong.
  2. Abuse: melakukan kekerasan, melecehkan, mempermainkan, mengancam, menghina, dsb.
  3. Close Mindedness: tidak menerima pendapat orang lain, memaksakan kehendak, sikap defensif
  4.  Egois, selalu mementingkan ego sendiri, ingin selalu menang
  5. Narsistik: selalu merasa diri benar dan hebat ­(­superiority complex)
  6.  Negativity: tidak terima orang lain bahagia, aku tidak senang maka kamu juga tidak boleh senang
  7. Tidak menghargai batasan: tidak memberikan privasi, 
  8. Kurang responsif: ­ghosting, silent treatment. Dll.


Artikel lengkapnya bisa di akses di sini

Intinya, perilaku yang merugikan orang lain adalah hal yang tidak boleh dilakukan, dan jika dilakukan secara berulang maka perilaku tersebut dikategorikan toxic.

Lalu, mengapa seseorang dapat menjadi toxic?

Penyebab seseorang berperilaku toxic dapat disebabkan oleh:
  1.  Emosi: Rasa malu (Shame), kesedihan, atau amarah yang tidak diproses dengan baik, rasa tidak puas dengan diri sendiri, rasa tidak puas dengan situasi yang dialami atau harus dihadapi, stress berkepanjangan
  2.  Cara berpikir: pola pikir yang pendek dan sempit, bias, fallacy, superiority complex, atau inferiority complex
  3. Kondisi kesehatan: masalah kesehatan mental yang tidak diperhatikan, kegagalan coping mechanism, atau rasa sakit dari pengalaman masa lalu yang traumatis
  4. Belajar dari pengalaman: tumbuh dilinngkungan yang toxic, berinteraksi dengan orang yang toxic dalam jangka waktu yang lama, mengkonsumsi media yang toxic
Untuk informasi lebih lanjut dapat mengklik artikel ini: https://gatehealing.com/blog/understanding-toxic-people/

Jadi, coba evaluasi faktor apakah yang menyebabkan perilaku kita menjadi toxic?


--
Nah, setelah kita mengetahui perilaku apa saja yang dianggap toxic alias merugikan orang lain dan diri sendiri. Maka, selanjutnya adalah cara untuk melepaskan kebiasaan toxic tersebut.

1.    Pahami bahwa perilaku kitalah telah menjadi toxic.

Perlu diketahui bahwa tidak ada manusia yang dilahirkan toxic atau ditakdirkan untuk toxic. Melainkan seseorang berubah menjadi toxic karena berbagai alasan yang sudah disebutkan di atas. Tentu saja, self-hate, self-blame, self-pity yang berlebihan dapat juga berperan dalam membentuk perilaku yang tidak fungsional tersebut. Dalam kasus tertentu, hal tersebut dapat terkesan narsistik. Seakan dunia hanya tentang mereka dan masalah mereka.

Mengubah kebiasaan atau perilaku yang sudah melekat kuat seakan sudah menjadi identitas kita tentunya tidak mudah bahkan terkesan mengerikan. Sebab, kita sudah terbiasa dengan label yang kita sendiri atau orang lain pasang. Bahkan, seseorang mungkin tidak akan merasa bersalah karena pada masa lalu cara tersebut berhasil melindungi mereka dari tekanan atau mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Dengan melakukan identifikasi bahwa kita berubah menjadi sesuatu yang tidak kita harapkan pada awalnya, kemudian tanpa mengurangi harga diri dan memberikan label negatif, kita dapat memahami dimana letak kelemahan kita. 

Dan, jika diperlukan kita dapat mengidentifikasi apa yang perlu dirubah dan bagaimana cara merubahnya.

2.    Mulailah dari langkah-langkah kecil
Selain mengakui bahwa perilaku yang kita pakai ini sudah tidak efektif lagi dalam menjalani hidup. Selanjutnya adalah memperbaiki apa yang telah rusak dan tidak berfungsi lagi dengan langkah-langkah kecil.

Tidak perlu terburu-buru, sebab roma saja tidak dibangun semalam.

Hal pertama yang harus diperbaiki adalah hal yang terkecil, terdekat, dan yang paling sering terabaikan.

Diri Sendiri.

Setiap perilaku dilatarbelakangi oleh cara berpikir, emosi, dan/atau perilaku yang telah dipelajari di masa lampau. Oleh sebab itu, ketika kita melihat ke dalam diri kita, maka kita akan menyadari apa yang selama ini kita tekan dan abaikan: emosi yang dianggap dosa, pemikiran yang tidak diharapkan, luka batin yang selama ini dibiarkan membusuk tanpa disembuhkan, aspek kepribadian yang sering di tolak atau rasa sakit yang kita alami sebelumnya dan pengalaman-pengalaman buruk lainnya.

Hal-hal tersebut dapat membuat kita terobsesi pada sesuatu yang salah dan menjauhkan kita dari apa yang kita butuhkan. Seperti merencanakan pembalasan dendam, keinginan untuk menjatuhkan orang lain, dsb.

Dengan mengidentifikasi mengapa kita melakukan hal tersebut, menerimanya, dan memaafkan diri kita. Dengan begitu, kita dapat membuat ruang untuk orang lain.

Ketika masalah dengan diri sendiri telah terselesaikan, maka hal dibawah ini dapat dilakukan:

a.    Meminta maaf dengan mengakui kesalahan dan berusaha memperrbaikinya
Akan mudah mengakui kesalahan ketika kita tidak merasakan malu (shame) atau memiliki keinginan tidak realistis untuk menjadi sempurna. Dengan mengakui kita hanya manusia yang berdaya,  maka kita dapat move on dari kesalahan itu dan memperbaikinya.
b.    Mendengarkan dan berusahalah untuk memahami orang lain
Ketika kamu sudah menghadapi bayangan-bayangan yang kamu sembunyikan, maka kamu dapat memahami situasi dan kondisi yang dirasakan orang lain tanpa menolak kegelapan atau cahaya yang ia pancarkan.
c.    Jangan uji kesabaran dan kesetiaan mereka
Jangan mempermainkan orang lain hanya untuk menguji apakah asumsimu mengenai mereka benar atau salah. Tidak ada yang suka ditinggal tiba-tiba, diabaikan, diancam, atau merasa tidak pasti. Jika kamu insecure, coba sampaikan secara jujur dan baik-baik. Jangan pernah berasumsi karena asumsi membunuhmu dan hubunganmu.
d.    Hormati orang lain, sebagaimana kita ingin di hormati
Jangan melanggar hak dan privasi mereka dengan sembarangan berkata atau berbuat. Jika menurutmu kamu tidak akan mendapat konsekuensinya dengan alasan apapun, mungkin kamu belum tahu masa kini akan mempengaruhi masa depan.
e.    Bersikap terbuka
Tidak apa-apa jika ada orang yang tidak setuju denganmu, bukan berarti mereka membenci atau ingin menyerang. Coba dengarkan sebelum bersikap defensif, lalu saring mana yang membantu dan mana yang tidak membantu.

3.    Jangan menyerah
Tidak ada yang tahu pasti bagaimana cara terbaik untuk berperilaku atau berkata-kata. Tak ada seorangpun yang mampu menyenangkan semua orang. Terkadang kita berusaha untuk menjadi pribadi yang baik, namun tampaknya orang tidak menghargai usaha kita bahkan membenci kita karena kita berubah.

Hal tersebut disebabkan mereka tidak bisa mengontrol diri kita lagi. Mereka kehilangan sosok yang cocok dengan gaya hidup mereka.

Atau perubahan kita memperparah keadaan.

Hal itu karena kita terobsesi untuk menjadi lebih baik dari semua orang secara kompetitif. Don’t bite more that what you can chew alias jangan mengambil lebih dari yang sanggup kamu lakukan. Cukup mulai dari hal-hal terkecil dan ambil waktumu dengan tetap konsisten.
Jangan memaksakan diri untuk menjadi sesuatu yang bukan dirimu.

Pada masanya, menyesuaikan diri dengan orang lain akan mudah, tanpa perlu mengorbankan diri sendiri dan apa yang benar-benar penting.

4.    Ulangi
Tidak ada yang pasti dan tetap di dunia ini, bahkan manusia pada kodratnya akan terus berusaha untuk menjadi lebih daripada sebelumnya. Meskipun caranya salah di mata masyarakat. Sehingga, jangan membenci perubahan itu sendiri dan berikanlah kesempatan kedua sekalipun suatu saat kita menemukan diri ini menjadi lebih buruk dibanding sebelumnya.

Tetap berusaha untuk memperbaiki hidup kita dan jangan biarkan kesalahan-kesalahan itu mendefinisikan atau mendikte diri kita.

Selama masih diberi nafas, hal tersebut merupakan kesempatan kita untuk terus berusaha untuk menjadi pribadi yang baik dan dapat kita banggakan.
__
Catatan:

Perubahan berawal diri sendiri, oleh diri sendiri, dan untuk diri sendiri.

Kita semua hanya bisa berusaha. Dan itupun, sudah menjadi langkah awal yang baik. Good luck, and I always wish you all the best.
See-ya!


Komentar