Who Am I: Masa Laluku Tidak Mendefinisikanku
Yo!
Welcome to "Black Cat's Stories". How are you?
Berbicara mengenai "My past doesn't define me" merujuk pada keadaan bahwa manusia bisa berubah karena pendewasaan atau karena belajar dari pengalaman dan introspeksi diri yang membuat seseorang dapat menjadi lebih baik atau bahkan lebih buruk dari keadaan sebelumnya.
Terkadang perubahan itu bisa membuat kita kehilangan orang yang kita sayangi, entah karena mereka tidak bisa menerima perubahan itu atau kita menjadi tidak berguna lagi bagi mereka.
Meskipun hanya mencoba untuk tetap bertahan hidup dengan segala hal yang kita miliki. Dengan cara apapun. Beberapa diantara kita sempat tersesat dan salah mengambil jalan, lalu kini dihantui oleh perasaan menyesal dan kotor yang luar biasa. Atau bahkan ada yang memiliki landasan moral yang begitu kuat dan dengan gigihnya mempertahankan moral dan kepercayaannya sekalipun dilanda badai. Memang menjadi orang baik itu tidak mudah didunia yang perlahan mulai hancur karena banyak manusia yang mengikuti hawa nafsunya.
Karena, terkadang ketika penderitaan tidak berujung terus datang menghampiri, meskipun sudah bersabar dan menahan diri, di momen penuh amarah itu terkadang terbesit pikiran jahat atau perkataan kalau kamu sudah muak menjadi orang baik. Menurutku itu adalah hal yang normal untuk dirasakan. Namun, hal yang perlu kita tanyakan untuk kedepannya adalah apakah kita mau menjadi sosok monster yang paling kita benci? Ataukah menjadi sosok yang paling kita butuhkan pada saat itu?
Membicarakan hal di atas mengingatkanku tentang kisah lama yang masih mempengaruhiku sampai saat ini, sesuatu yang melekat sangat erat dengan diriku dan hidupku. Kamu bisa mengambil pelajaran dari pengalamanku.
Ketika aku masih sebesar biji jagung, aku pernah ditindas. Mereka merampas, menghina, mengucilkan, dan mengintimidasiku. Padahal aku hanyalah bubuk rengginang yang polos dan naif. Bahkan aku masuk ATM aja lepas sandal. Namun, penindasan itu membuatku merasa sakit, amarah, dan kesedihan yang bercampur aduk dan diperkuat dengan ekspektasiku bahwa orang dewasa itu adil, namun nyatanya tidak sama sekali. Aku mengharapkan bantuan, namun banyak yang membuang muka. Mereka mempunyai mata, namun pura-pura tidak melihat. Mereka memiliki telinga, namun pura-pura tidak mendengar. Hingga, aku lelah menunggu 'seseorang' yang mungkin tidak akan pernah datang dan memutuskan untuk menjadi 'seseorang' yang bisa mengeluarkan aku dari neraka ini.
Perasaanku, empatiku, keramahanku, dan segala hal yang membuatku lemah akan ku buang ke tempat sampah. Hingga aku mendapatkan respek yang aku inginkan dan mampu menjadi lebih kuat dibanding mereka.
Perlahan-lahan aku kehilangan banyak hal akibat perubahanku. Seperti hubunganku dengan orang lain, rasa senang dan bahagia, motivasiku dan tujuan hidup, bahkan jati diriku. Sulit untuk merasa terhubung dengan diriku, orang lain, dan dunia ini, karena aku tidak bisa merasakan apapun selain kehampaan. Tidak ada hal yang berharga bagiku dan akupun mulai menyerah dengan hidup ini. Aku mulai mengabaikan diriku, meninggalkannya, dan memastikan dunia tidak akan pernah bisa melihatnya lagi. Aku membuang sosok lemah dan memalukan itu dari pandangan dunia.
Jiwaku dipenuhi amarah dan membuatku bersikap seolah tidak ada hal baik yang tersisa, Membutakanku dari apa yang memang penting bagiku. Kebencian itu menipuku dengan memberi kekuatan dan kuasa ketika berhasil menyakiti orang lain demi menutupi kelemahanku sendiri, membuatku tersenyum seolah aku menjadi raja dunia yang paling kuat dan tangguh. Namun, setiap malam aku merasa menjadi orang yang paling sengsara di muka bumi ini. Terus menerus berperang dengan sesuatu yang tidak bisa aku lihat namun dapat aku rasakan dan yang hanya aku ketahui. Semua itu terasa sangat melelahkan. Begitu melelahkannya hingga aku tidak bisa melakukan apapun.
Kekuatan itu hanyalah ilusi untuk menyembunyikan kelemahanku.
Saat aku melihat wajah itu. Wajah sakit yang teramat akibat perkataanku yang tidak terjaga. Aku baru menyadari kalau aku telah berubah menjadi monster yang paling aku benci dan ingin aku hapuskan dari dunia ini.
Namun aku tidak bisa berubah, aku terlalu takut untuk berubah.
Segalanya berubah menjadi abu-abu dan keberadaankupun mulai memudar. Pada titik ini aku sudah tidak mengenal siapa diriku. Tidak tahu apa-apa tentang diriku, bahkan aku tidak tahu apa yang aku sukai lagi. Ketika melihat cermin yang kulihat adalah orang asing yang berdiri di sana. Di tengah kegelapan dan masa jahiliyah itu, ketika aku sudah tidak tahu lagi harus melakukan apa untuk menyelamatkan diriku dari ancaman tidak terlihat, disitulah celah dari dinding yang aku bangun membuat kesempatan baru muncul.
Tidak ada pengalaman dramatis yang membuatku bertobat seperti sinetron-sinetron kehidupan. Walaupun kurang asyik, tapi aku bersyukur aku tidak perlu kena azab untuk sadar kalau aku salah.
Jadi, satu hal yang berhasil mengubahku, yaitu kebaikan hati. Yup, sesederhana itu.
Kebaikan hati adalah sesuatu yang begitu sederhana, namun sesuatu yang sangat mudah dilupakan. Aku terlalu terfokus pada rasa marah dan benciku hingga membuatku melupakan dia yang selalu ada. Dia yang rela mengorbankan dirinya hanya untuk membelaku, tidak seperti mereka yang pengecut dan memilih untuk berpura-pura tidak tahu. Membuatku menyadari bahwa selama ini aku hanya ingin dimengerti, aku hanya ingin ada orang yang mau menerimaku dan berjalan bersamaku di dunia ini. Dan, Mereka memberikan apa yang aku sebenarnya butuhkan. Mereka mendengarkanku, mencoba memahamiku, dan memperlakukanku layaknya manusia.
Jadi, satu hal yang berhasil mengubahku, yaitu kebaikan hati. Yup, sesederhana itu.
Kebaikan hati adalah sesuatu yang begitu sederhana, namun sesuatu yang sangat mudah dilupakan. Aku terlalu terfokus pada rasa marah dan benciku hingga membuatku melupakan dia yang selalu ada. Dia yang rela mengorbankan dirinya hanya untuk membelaku, tidak seperti mereka yang pengecut dan memilih untuk berpura-pura tidak tahu. Membuatku menyadari bahwa selama ini aku hanya ingin dimengerti, aku hanya ingin ada orang yang mau menerimaku dan berjalan bersamaku di dunia ini. Dan, Mereka memberikan apa yang aku sebenarnya butuhkan. Mereka mendengarkanku, mencoba memahamiku, dan memperlakukanku layaknya manusia.
Meskipun sempat merasa alergi karena mendapatkan sesuatu yang tidak pernah aku rasakan setelah sekian lama. Ditambah kebaikan mereka yang tanpa pamrih itu terasa seperti beban sampai sempat terpikir berkali-kali untuk menyerah dan kembali menjadi seperti dulu yang lebih mudah dan sudah aku kenali, ditambah pengalaman buruk yang menimpaku membuatku merasa aku sudah ditakdirkan menjadi seorang penjahat dan pantas dibenci semua orang.
Tapi, temanku tidak menyerah meski aku hanya bubuk rengginang. Mereka menerimaku apapun diriku ini, mereka menyesuaikan diri mereka denganku agar aku merasa diterima dan memiliki tempat untuk kembali. Dengan sabar tetap bersamaku, memberiku petunjuk padaku yang sempat hancur dan salah memilih jalan, sehingga aku menyakiti banyak orang termasuk mereka. Tanpa menjadi lemah, mereka menerima dan memaafkan kesalahanku, mereka mencoba memahamiku dan membantuku memahami diriku sendiri.
Mereka menyadarkanku kalau selama ini aku tidak pernah menjadi siapapun, aku hanya menjadi label yang diberikan padaku.
Ketika ilusi yang membutakanku mulai runtuh, akhirnya bisa aku lihat dengan jelas.
Aku adalah aku.
Aku adalah seorang manusia biasa seperti mereka, tidak lebih dan tidak kurang. Harga diriku tidak ditentukan oleh mereka.
Jalan hidupku dan masa depanku sepenuhnya adalah milikku.
Aku menyadari banyak hal yang aku lupakan karena fokus pada kebencian dan dendam, sehingga aku harus dan akan terus memperbaiki diriku dan kesalahan yang pernah aku buat, meskipun tidak akan pernah sempurna, tapi aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Masih banyak kesalahan baru yang menunggu untuk dicoba. Masa depan tidak pernah pasti.
Namun satu hal yang aku tahu pasti, apapun yang terjadi aku akan baik-baik saja pada akhirnya. Aku akan hidup dan aku akan menemukan banyak hal yang baru. Selama aku masih hidup, aku masih bisa memperbaiki yang salah dan belajar darinya.
Saat ini, aku masih belajar untuk beradaptasi dan memahami hidup, belajar tentang bagaimana caranya menjadi seorang manusia. Dan mungkin belajar untuk memahami orang lainlain, sekalian mencari kepingan puzzle yang membentuk diriku yang telah hilang.
Aku mungkin akan terjatuh lagi, hilang arah lagi, bahkan mungkin melakukan banyak kesalahan lagi. Mau bagaimanapun aku harus terus hidup sampai akhir dan menciptakan “happy ending” ku sendiri, dengan kekuatanku, kelemahanku dan segala potensi yang Tuhan berikan.
Aku mungkin akan terjatuh lagi, hilang arah lagi, bahkan mungkin melakukan banyak kesalahan lagi. Mau bagaimanapun aku harus terus hidup sampai akhir dan menciptakan “happy ending” ku sendiri, dengan kekuatanku, kelemahanku dan segala potensi yang Tuhan berikan.
Mereka mungkin merenggut awal yang bahagia dariku, tapi masa depanku sepenuhnya milikku.
Karena ini adalah jalan ninjaku.
Pada akhirnya yang namanya manusia itu adalah makhluk yang dinamis dan terbuka. Mereka bisa berubah diberbagai fase kehidupan selama mereka masih bernafas. Entah akibat rasa sakit, belajar dari pengalaman atau introspeksi diri, atau memang pendewasaan. Bukan urusan kita menghakimi seseorang atas pilihan hidupnya tanpa mencoba memahami apa yang mereka alami, pikirkan, dan rasakan. Tema hidup kita sudah berbeda.
Jika kamu sama sepertiku, tidak memiliki awal yang indah dan bahagia. Maka akan aku sampaikan padamu, "Your past doesn't define you", kamu tidak tinggal disana saat ini. Tetapi, siapa dirimu ditentukan oleh dirimu sendiri, dengan sikapmu dan perbuatanmu pada masa kini.
Kamu ingin menjadi orang seperti apa?
Tentukan sendiri masa depanmu dan “happy ending” mu sendiri.
Hope you stay safe and healthy, See ya!
Komentar