Mengunjungi psikolog/psikiater, perlu ga sih?
Yo!
Welcome to “Black Cat’s Stories”
Bicara soal
mengunjungi psikolog/psikiater, pasti ada beberapa orang yang akan
merasa cemas, malu, bingung, dan berbagai perasaan campur aduk lainnya ketika
memikirkan hal itu. Entah karena stigma
negatif karena takut dianggap gila, atau merasa diri belum “butuh” padahal udah
mulai ga nyaman sama diri sendiri dan sudah hampir menyerah.
Kamu ga sendiri soal itu, aku juga sama, dan mungkin ada lebih banyak orang diluar sana yang merasa sama. Menurutku, perasaan itu tuh hal yang wajar dirasakan sih, apalagi di dunia yang berisi kaum nyinyir dan judging-judging orang.
TAPI,
FAKTANYA,
Mengunjungi psikolog/psikiater ga
otomatis bikin kamu “gila”. Justru setelah pulang dari sana kamu bisa
menjadi diri kamu yang lebih baik. Kamu bisa tau masalah kamu dimana dan cara
memperbaikinya, bahkan kamu juga bisa mengunjungi psikolog untuk konsultasi
pengembangan karir dan minat bakat.
Kalau kamu masih ragu, kamu bisa cari tau tanda-tanda
kamu butuh konsultasi ke psikolog/psikiater lewat google. Aku juga masih sering "mencari-cari pertanda" ketika ragu untuk mencari bantuan padahal masalah sudah mulai mengganggu. Cuma sekadar meyakini diri sendiri kalau aku ga perlu punya
masalah yang seberat dunia dulu baru bisa konsultasi. Dan, aku kasih tau kamu ya, jangan ditunggu masalahnya berat dulu, nanti lebih susah sembuhnya. Aku kaya gitu soalnya, dan emang jadinya berat banget.
Karena itu, aku mau berbagi kisah ya, soal pengalaman aku ke psikiater dulu.
Jadi psikiater itu beda sama
psikolog. Bedanya kalau psikiater itu boleh memberikan obat karena dia latar
belakangnya dokter, psikolog enggak karena dia latar belakangnya S1 dan S2
Psikologi. Tapi, mereka sama-sama spesialis kesehatan mental kok. Cara mereka
mendiagnosisnya aja yang beda.
Selain itu ada tuh yang istilahnya "cocok-cocokan", kalau kamu merasa ga cocok sama mereka atau ada hal yang kamu ga nyaman, gapapa kok kalau kamu bilang ke mereka atau minta ganti. Intinya, kamu itu bosnya.
Selain itu ada tuh yang istilahnya "cocok-cocokan", kalau kamu merasa ga cocok sama mereka atau ada hal yang kamu ga nyaman, gapapa kok kalau kamu bilang ke mereka atau minta ganti. Intinya, kamu itu bosnya.
Okay, jadi sekarang kamu udah
taulah bedanya.
Nah, waktu dulu aku di rujuk ke psikiater (gak bayar, karena pake BPJS) yang praktek di klinik dekat rumah, aku kesana karena baru aja keluar dari hubungan toxic yang membuat aku menjadi rendah diri, stress, dan nilai akademik aku terjun payung, sebenernya aku memang udah merasa butuh, tapi karena stigma tadi dan perasaan seolah bisa menyelesaikan masalah sendiri, aku jadi ragu.
"Nanti aku harus cerita apa?"
"Nanti kalau orang tua jadi malu gimana?"
"Masih banyak orang yang masalahnya lebih parah dibanding aku"
"Aku masih bisa menangani ini sendiri" tapi, semua serba berantakan dan kamu inginnya nyerah aja.
Dan masih banyak argumen-argumen yang aku lontarkan pada diriku supaya ga pergi untuk konsultasi ke psikolog/psikiater, padahal jiwa dan raga ini udah berteriak, "PERGI SANA!"
Untunglah, temanku yang keren dan awesome ini, Spam Lord, “memaksa” dengan penuh kasih sayang untukku mencari bantuan. Karena kebetulan waktu itu, kondisiku mengkhawatirkan dan aku malah bertingkah sok tangguh.
Nah, waktu dulu aku di rujuk ke psikiater (gak bayar, karena pake BPJS) yang praktek di klinik dekat rumah, aku kesana karena baru aja keluar dari hubungan toxic yang membuat aku menjadi rendah diri, stress, dan nilai akademik aku terjun payung, sebenernya aku memang udah merasa butuh, tapi karena stigma tadi dan perasaan seolah bisa menyelesaikan masalah sendiri, aku jadi ragu.
"Nanti aku harus cerita apa?"
"Nanti kalau orang tua jadi malu gimana?"
"Masih banyak orang yang masalahnya lebih parah dibanding aku"
"Aku masih bisa menangani ini sendiri" tapi, semua serba berantakan dan kamu inginnya nyerah aja.
Dan masih banyak argumen-argumen yang aku lontarkan pada diriku supaya ga pergi untuk konsultasi ke psikolog/psikiater, padahal jiwa dan raga ini udah berteriak, "PERGI SANA!"
Untunglah, temanku yang keren dan awesome ini, Spam Lord, “memaksa” dengan penuh kasih sayang untukku mencari bantuan. Karena kebetulan waktu itu, kondisiku mengkhawatirkan dan aku malah bertingkah sok tangguh.
Tapi, serius deh, sebenernya dorongan
dia itu sangat membantu, aku merasa tidak sendirian dalam penderitaanku. Love you, spam lord.
Okay, skip.
Aku disana konseling kan,
ceritain masalah yang mengangguku apa saja, terus karena dia psikiater dia
memberikan resep obat. Waktu itu ada 3 jenis, ada anti-depressant dan obat lain untuk memperbaiki
mood dan kualitas tidurku. Dia juga memberikan tips and trick -nasehat- untuk
mengurangi stress karena pola pikirku bermasalah katanya, jadi dia suruh aku
untuk tidak terlalu berfokus pada hal-hal yang “seharusnya terjadi, seharusnya dilakukan,
seharusnya aku pikirkan”, intinya, dia suruh aku untuk menerima kalau ada hal
yang tidak bisa diubah dan aku kendalikan gitu loh. Yang sudah terjadi biarlah
terjadi, sekarang fokus pada solusinya.
Jadi sederhananya, kamu nggak sekadar curhat gajelas. Ada bentuk intervensinya juga, nah itulah yang bikin curhat ke psikolog dan psikiater beda.
Jadi sederhananya, kamu nggak sekadar curhat gajelas. Ada bentuk intervensinya juga, nah itulah yang bikin curhat ke psikolog dan psikiater beda.
Oh tapi, waktu itu aku masih
merasa belum puas, masih ada yang mengganjal. Aku merasa dia hanya membantu mengurangi gejala, dan
inti permasalahannya belum ketemu. Entah karena dia psikiater jadi dia lebih
fokus ke solusi obat-obatan atau gimana. Aku merasa obat itu memang
membuat diriku merasa lebih baik, tapi itu tidak menyelesaikan masalahnya. Jadi sekarang, aku masuk kuliah di jurusan psikologi untuk rawat jalan dan aku sedang menemui psikolog untuk menyelesaikan masalah yang belum selesai itu. Akan kuceritakan soal itu lain waktu. Tapi gajauh beda kok, semuanya diawali dengan masalah yang ternyata aku ga bisa selesaikan sendiri dan aku mulai kehilangan arah.
Memang ga mudah meminta bantuan, apalagi ketika
kamu sudah biasa menyelesaikan masalah sendiri. Minta bantuan akan membuatmu merasa lebay, malu, atau lemah tak berdaya. Atau, karena ada beberapa orang yang kurang sensitif dan membuatmu merasa dihakimi. Tapi, jangan di dengerin perasaan kaya gitu, kalau niatmu untuk maju dan menjadi lebih baik jangan sampai perasaan itu menghalangi.
So, it is okay to ask for help. Kamu ga lemah hanya karena kamu meminta bantuan, atau itulah yang temanku katakan padaku.
Jika kamu atau orang yang kamu cintai melakukan self-harm atau mungkin melakukan percobaan bunuh diri, kamu bisa meminta bantuan psikolog/psikiater untuk memberikan support tambahan. Kamu bisa menemukan mereka di RSU, RSJ, puskesmas, klinik, atau universitas yang menyediakan layanan psikologi contohnya UPI, Unpad, dsb. Harganya mulai dari 100-150k, kalau terkendala biaya bisa menggunakan BPJS. Dengan meminta rujukan dari faskes 1 ke layanan kesehatan lain yang menyediakan psikolog/psikiater. Kamu juga sekarang bisa menggunakan aplikasi atau langsung mendatangi psikolog/psikiater ke tempat praktek pribadinya.
Itu aja sih, pendapat dan kisahku seputar psikolog/psikiater. Bagaimana kisahmu?
See ya
So, it is okay to ask for help. Kamu ga lemah hanya karena kamu meminta bantuan, atau itulah yang temanku katakan padaku.
Jika kamu atau orang yang kamu cintai melakukan self-harm atau mungkin melakukan percobaan bunuh diri, kamu bisa meminta bantuan psikolog/psikiater untuk memberikan support tambahan. Kamu bisa menemukan mereka di RSU, RSJ, puskesmas, klinik, atau universitas yang menyediakan layanan psikologi contohnya UPI, Unpad, dsb. Harganya mulai dari 100-150k, kalau terkendala biaya bisa menggunakan BPJS. Dengan meminta rujukan dari faskes 1 ke layanan kesehatan lain yang menyediakan psikolog/psikiater. Kamu juga sekarang bisa menggunakan aplikasi atau langsung mendatangi psikolog/psikiater ke tempat praktek pribadinya.
Itu aja sih, pendapat dan kisahku seputar psikolog/psikiater. Bagaimana kisahmu?
See ya
Komentar